Bagaimana Kekristenan Memandang Otoritas Gereja Katolik dan Paus?
Dalam pandangan kekristenan sejati yang berlandaskan Firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus, kata "gereja" dalam Perjanjian Baru berasal dari bahasa Yunani ekklesia, yang artinya adalah “orang-orang yang dipanggil keluar”, “jemaat”, “kongregasi”, atau “persekutuan orang percaya.” Ekklesia tidak menunjuk pada institusi, bangunan, atau organisasi, melainkan pada tubuh Kristus yang hidup dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Namun, selama sejarah panjang kekristenan, istilah “gereja” telah mengalami distorsi makna, dan kekuasaan manusia mulai menggantikan pimpinan Roh Tuhan. Sistem institusional seperti Gereja Katolik Roma dan kepausannya menjadi pusat otoritas keagamaan yang tidak pernah dicontohkan oleh jemaat mula-mula.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa ada satu manusia yang harus menjadi wakil Kristus di bumi. Satu-satunya Kepala Gereja adalah Yesus Kristus sendiri (Kolose 1:18). Kristus tidak mewariskan kepemimpinan-Nya kepada sistem hirarki agama, tetapi kepada seluruh Tubuh Kristus yang dipimpin langsung oleh Roh Kudus.
Perpecahan denominasi, hirarki manusia, dan sistem keagamaan yang otoriter tidak berasal dari Tuhan. Mereka adalah hasil dari daging manusia dan pekerjaan roh penyesat yang mengaburkan wajah Kristus yang sejati. Wahyu 17-18 menggambarkan sistem keagamaan dunia yang jatuh sebagai “Babel Besar”, “Ibu dari segala pelacur rohani.” Sistem ini memerintah dengan kuasa politik dan agama, menyatukan dunia di bawah nama agama tetapi menolak pemerintahan sejati Kristus melalui Roh Kudus.
Yesus tidak datang untuk membangun agama, melainkan hubungan perjanjian. Dia memanggil setiap orang untuk keluar dari sistem manusia dan masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya melalui pertobatan dan kelahiran baru. Dalam tubuh Kristus yang sejati, tidak ada satu pun yang diagungkan sebagai pemimpin tertinggi kecuali Tuhan sendiri. Tidak ada yang menjadi “bapa rohani” atas jemaat, sebab Yesus berkata, “Jangan kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga.” (Matius 23:9)
Kesimpulan: Kekristenan sejati tidak tunduk pada otoritas manusia yang mengklaim posisi Kristus. Paus atau sistem keagamaan apa pun tidak memiliki otoritas surgawi kecuali mereka tunduk sepenuhnya pada Kepala Gereja yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Roh Kudus memimpin ekklesia-Nya dalam kebenaran dan kasih, bukan melalui sistem agama tetapi melalui hubungan yang hidup dan suci.
Efesus 5:23 — “Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”
Wahyu 18:4 — “Keluarlah dari padanya, hai umat-Ku, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.”
Soli Deo Gloria
Kembali ke Pertanyaan Yang Sering Diajukan

