Apakah Alkitab Mengizinkan Poligami?
Tidak. Alkitab tidak membenarkan poligami. Sekalipun dalam narasi-narasi sejarah di Perjanjian Lama kita menemukan tokoh-tokoh seperti Abraham, Yakub, Daud, dan Salomo memiliki lebih dari satu istri, hal itu tidak pernah berarti bahwa Tuhan menyetujui praktik tersebut. Alkitab mencatat sejarah secara jujur — termasuk kegagalan manusia — namun catatan bukanlah persetujuan.
Contoh dari Narasi Alkitab
Alkitab juga mencatat bahwa Petrus menyangkal Yesus, Herodes membunuh bayi-bayi, dan Saul tidak taat kepada perintah Tuhan. Namun jelas kita tidak diajarkan untuk meneladani tindakan-tindakan tersebut. Maka demikian pula dengan poligami: hanya karena dicatat, tidak berarti dikehendaki Tuhan.
Perjanjian Lama: Tuhan Memperingatkan
Dalam Ulangan 17:17, Tuhan memberikan peringatan bagi raja-raja Israel: “Janganlah ia memperbanyak isteri bagi dirinya sendiri, supaya hatinya jangan menyimpang.”
Perintah ini jelas merupakan larangan, bukan restu. Dan sejarah menunjukkan bahwa Salomo, yang memperistri banyak wanita asing, akhirnya menyimpang dari jalan Tuhan.
Perjanjian Baru: Pola Ilahi Pernikahan
Yesus sendiri menegaskan rancangan Allah atas pernikahan dalam Matius 19:4-5: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menciptakan mereka laki-laki dan perempuan dan berfirman: 'Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.'”
Dalam rancangan ilahi, satu laki-laki dan satu perempuan menjadi satu daging — bukan satu laki-laki dengan dua atau tiga istri.
1 Korintus 7:2 memperkuat pola ini: “Tetapi karena percabulan, maka tiap-tiap laki-laki harus mempunyai isteri sendiri dan tiap-tiap perempuan harus mempunyai suami sendiri.” Kata “sendiri” dalam bahasa Yunani menunjuk pada bentuk tunggal.
Teladan Bagi Gereja
Dalam 1 Timotius 3:2, syarat untuk seorang penilik jemaat adalah: “suami dari satu istri.” Hal ini bukan hanya peraturan gereja, melainkan cerminan kehendak Tuhan atas umat-Nya. Karena pemimpin adalah teladan bagi jemaat (1 Petrus 5:3, Ibrani 13:7), maka pola hidup mereka mencerminkan standar kekudusan dan ketetapan Allah.
Kesimpulan
Tuhan tidak menyetujui poligami. Ia menetapkan sejak semula bahwa pernikahan adalah antara satu pria dan satu wanita. Narasi sejarah yang mencatat poligami menunjukkan kerusakan yang timbul akibat ketidaktaatan. Namun Firman Tuhan jelas menunjukkan bahwa pernikahan kudus adalah satu laki-laki dengan satu perempuan, dalam perjanjian seumur hidup.
Kiranya umat Tuhan senantiasa kembali kepada rancangan semula, dan hidup dalam kekudusan yang menyenangkan hati-Nya.
Soli Deo Gloria
Kembali ke Pertanyaan Yang Sering Diajukan

