Bagaimana Kekristenan Memandang Perintah-Perintah dalam Perjanjian Lama yang Tampak Keras?
Semua perintah yang tertulis dalam Perjanjian Lama, terutama yang terkandung dalam Sepuluh Perintah Allah, merupakan cerminan dari standar kekudusan dan kebenaran Allah. Standar ini tidak berubah, dan tidak akan diturunkan hanya karena keterbatasan atau ketidaktahuan manusia. Firman-Nya adalah teguh, murni, dan sempurna. Allah tidak pernah meminta sesuatu yang bertentangan dengan karakter-Nya. Ia menuntut kesempurnaan karena Ia sendiri adalah sempurna.
Namun, justru di sinilah letak tujuan utama dari Hukum Taurat: untuk menyadarkan manusia akan ketidakmampuannya. Dalam Roma 3:20 tertulis, "sebab oleh hukum Taurat orang mendapat pengetahuan akan dosa." Hukum Taurat memperlihatkan bahwa bahkan jika seseorang menaati 99% dari hukum, itu tetap tidak cukup. Satu pelanggaran saja sudah membuat kita bersalah di hadapan Allah (Yakobus 2:10).
Tidak ada manusia yang mampu memenuhi seluruh tuntutan Taurat—kecuali satu Pribadi: Tuhan Yesus Kristus. Ia hidup tanpa dosa, menaati seluruh hukum Allah dengan sempurna selama hidup-Nya di dunia. Ia bukan datang untuk membatalkan Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5:17). Maka kini, kesempurnaan Kristus diperhitungkan bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Kita Tidak Diselamatkan oleh Hukum, Tapi oleh Kasih Karunia
Sebagai orang percaya di dalam Perjanjian Baru, kita tidak lagi hidup di bawah hukum, melainkan di dalam anugerah. Hukum Taurat bukan lagi jalan keselamatan, melainkan menjadi cermin yang menunjukkan betapa dalamnya kita membutuhkan Juru Selamat. Oleh karena itu, ketika seseorang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, percaya bahwa Ia telah mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga, maka kebenaran-Nya diperhitungkan kepadanya. Dalam Kristus, hukum telah digenapi.
"Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya." – Roma 10:4
Kesimpulan
Perintah-perintah Tuhan dalam Perjanjian Lama tetap suci dan mulia. Namun melalui Taurat, Tuhan menyatakan bahwa manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Tujuannya adalah supaya manusia diarahkan kepada satu-satunya jalan keselamatan: Yesus Kristus. Di dalam Dia, bukan hanya tuntutan hukum digenapi, tetapi juga kasih karunia dicurahkan, dan hati kita diubahkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan kuasa Roh Kudus.
Soli Deo Gloria
Kembali ke Pertanyaan Yang Sering Diajukan

